Wisma Rehabilitasi Jiwa Purbalingga


Tempat Sumanto Akan Menimba Ilmu Agama

NAMA Wisma Rehabilitasi Sosial Mental dan Narkoba di Desa Bungkanel RT 3 RW 2, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga, tiba-tiba menasional. Hal itu tak lain karena wisma yang dipimpin Supono Mustajab (59) ini akan menjadi tempat penyembuhan dan menimba ilmu agama bagi Sumanto, setelah bebas dari penjara bulan depan.

Ada banyak cerita menarik dari Pondok Suralaya Purbalingga, yang sudah berdiri sejak 1995 itu. Pada masa awal berdiri, warga sekitar sering kaget dengan ulah pasien sakit jiwa ataupun penderita narkoba yang dibawa ke tempat tersebut. Ada yang datang mengamuk, berteriak-teriak, menjerit-jerit, menangis meraung-raung.

“Ada juga yang senang azan keras-keras, sampai membangunkan tetangga. Selain kaget karena belum waktunya, azan itu membuat warga tersenyum. Mestinya azan kan Allahu Akbar, Allahu Akbar. Nah, pasien ini azannya Allahu Akbar, Allahu Shomad. Akhirnya wisma itu lebih dikenal warga sekitar dengan pesantren Allahu Akbar Allahu Shomad,” kata Camat Karanganyar, Aksan Mashuri.

Namanya orang stres, ada-ada saja ulahnya. Menurut Supono Mustajab, sepanjang ulahnya tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain, akan dibiarkan sambil diberitahu pelan-pelan. Namun kalau ulahnya sudah membahayakan, terpaksa pasien dimasukkan ke ruang isolasi.

Sudah Capai

Jika shalat berjamaah dengan para pasien, jangan kaget jika di tengah-tengah shalat ada yang keluar mushala. Pasien itu keluar untuk meludah lalu kembali lagi shalat bergabung dengan jamaah. Ada juga yang tiba-tiba berteriak dari barisan belakang. “Pak Haji, shalatnya jangan lama-lama. Sudah capai, nih!”

Untuk menyembuhkan pasien secara medis, Supono bekerja sama dengan enam dokter dari Purbalingga dan Purwokerto. Salah satunya adalah dokter spesialis jiwa Basiran, dari RSU Banyumas, sebagai penanggung jawab dan konsultan. Pengobatan secara rohani dilakukan sendiri oleh Supono.

Waktu penyembuhan pasien bergantung pada berat-ringannya tingkat stres atau kecanduan narkobanya. Jika ringan, biasanya sudah ada perubahan dalam 15 hari. Umumnya pasien gila yang dibawa adalah orang tidak mampu, bahkan tidak punya keluarga. Sudah sering polisi atau aparat Pemkab membawa orang gila hasil garukan.

“Tetapi ada juga pasien dari keluarga mampu, baik yang stres maupun pecandu. Mereka ada yang datang dari kota-kota besar, bahkan dari Malaysia, Singapura, India, dan negara Eropa. Jumlah pasien sekarang yang rawat inap dan rawat jalan ada 60 orang. Kebanyakan dari Jakarta. Namun ada juga korban gempa bumi Yogyakarta,” urai Ketua Pondok Pesantren se-Purbalingga itu.

Untuk pengobatan spiritual, pasien diberi minum air karomah setiap pagi, siang, dan malam. Pasien juga disuruh mandi malam hari dan dilanjutkan shalat malam, agar pikiran tenang. Setelah itu, zikir bersama. Untuk melatih kewirausahaan, disediakan kolam ikan, lahan pertanian, kebun, dan balai latihan kerja.(Arief Noegroho-42s)

link : http://www.suaramerdeka.com/harian/0609/30/ban04.htm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s